Selasa, 17 Mei 2016

[MOVIE REVIEW] The Purge: Anarchy (2014): Again, 12 Hours of Hell.
22.23.00

[MOVIE REVIEW] The Purge: Anarchy (2014): Again, 12 Hours of Hell.



Setelah sukses dengan film sebelumnya, The Purge pada tahun 2013, James DeMonaco kembali menghadirkan ritual penyucian diri tahunan dalam The Purge: Anarchy. Masih dengan premis yang kontroversial dan nyeleneh, sekuel The Purge ini kembali meraup kesuksesan yang dalam segi finansial. Film ini dianggap sedikit lebih baik dibanding pendahulunya, meskipun masih banyak para penonton yang menginginkan James DeMonaco lebih mengeksplorasi ide brilian ini dengan lebih baik.

Jika di film sebelumnya cerita lebih menitikberatkan kepada sebuah keluarga yang tiba-tiba menjadi sasaran penyucian diri, kali ini alurnya cukup berbeda. Tidak lagi berkutat di dalam rumah, namun kali ini penonton diajak untuk menyaksikan seperti apa jalanan di Amerika ketika annual purge. Brutal!

Tiga plot berbeda ditampilkan dalam cerita sebelum akhirnya mereka bersama-sama melewati malam yang bagai neraka itu. Leo Barnes (Frank Grillo) berniat untuk ikut dalam annual purge untuk membalaskan dendam. Dirinya mempersenjatai diri dengan sangat lengkap. Eva (Carmen Ejogo), bersama putrinya Cali (Zoe Jiwa), dan juga pasangan suami istri Shane (Zach Gilford) dan Liz (Kiele Sanchez) terpaksa harus berada di jalanan dan bermain petak umpet dan berharap tidak menjadi korban dalam annual purge.


Lebih baik dari film pendahulunya? Harus dikatakan iya. Namun masih seperti di film pertama, DeMonaco seperti bingung harus menggarapnya seperti apa. Padahal dengan ide brilian seperti ini, saya dan juga penonton lain pastinya menginginkan sesuatu yang WOW. Film ini lebih baik karena berpindah dari sekedar home invasion ke jalanan Los Angeles dengan kendaraaan-kendaraan yang dipersenjatai dan topeng-topeng mengerikan. Dalam film ini pun diceritakan bahwa adanya sekelompok orang yang tidak setuju dengan diadakannya annual purge karena dianggap tidak memihak kepada rakyat kecil. Namun hal ini kembali menguap tidak diceritakan lebih jauh lagi akan seperti apa gerakan anti-pugre ini.

Kembali saya acungkan jempol kepada departemen kostum. The Purge: Anarchy terlihat mengerikan karena para ‘peserta’ annual purge mengenakan kostum-kostum dan topeng-topeng yang creepy. Saya yakin topeng-topeng yang ada di film ini laku di pasaran untuk perayaan Halloween karena memang sangat menyeramkan. Lengkap dengan baseball bat dan skateboard seseorang yang menggunakan topeng-topeng ini bisa bikin saya ngeri.

Lagi, dengan premis yang original, film ini tidak cukup membangun cerita yang seharusnya lebih baik dan lebih menegangkan. Walaupun cukup memorable dengan ‘stay safe’ dan topeng-topeng menakutkannya, tetap film ini butuh sesuatu dari sekedar film survival biasa. Film lanjutannya dijadwalkan hadir pada Juli 2016 dengan judul The Purge: Election Year. Saya tetap berharap film lanjutannya akan jauh, jauh lebih baik, karena film ini jadi salah satu film action-horror favorit saya hanya karena premisnya yang original. Semoga harapan saya bisa terpuaskan di film selanjutnya.

0 komentar:

Posting Komentar