Jumat, 02 September 2016


Fede Alvarez, sutradara yang memulai debut Hollywoodnya dengan remake Evil Dead (2013) akhir Agustus 2016 ini kembali dengan sebuah film horror-thriller berformulakan home invasion, Don’t Breathe. Judul film sendiri menjadi sebuah pesan kepada semua karakter, juga kita sebagai penontonnya. Dengan durasi 80 menit yang begitu thrilling setiap menitnya dijamin akan membuatmu sulit untuk bernafas.

Menceritakan tentang Rocky (Jane Levy), Alex (Dylan Minnette) dan Money (Daniel Zovatto), tiga perampok amatir di sebuah kota kecil yang berencana menjalankan aksinya dengan target sebuah rumah di daerah sepi yang hanya dihuni seorang veteran perang buta (Stephen Lang). Sang pria buta tersebut diduga menyimpan $300.000 di dalam rumahnya. Namun tanpa disangka, perampokan yang dianggap akan berjalan lancar dan mudah ternyata kacau balau bahkan menjadi neraka bagi ketiganya.

Fede Alvarez memang tidak menjadikan Don’t Breathe horror gore seperti Evil Dead, namun bukan berarti film ini tidak membuat penontonnya frustrasi. Dengan kesederhanaan narasi namun terasa solid hasil besutan sang sutradara dan Rodo Sayagues Mendez, Don’t Breathe tetap efektif menggungcang emosi dan tetap brutal.

Dari segi teknis, Don’t Breathe memang juara. Tidak semata-mata hanya sekedar film horror yang menyeramkan, Don’t Breathe menyajikan sesuatu yang berbeda yang jarang ditemui di film-film sejenis: keindahan film itu sendiri. Sang sinematografer, Pedro Luque memang menjadi salah satu MVP di film ini. Melalui pergerakan kamera yang dinamis, Pedro seolah-olah mengajak penonton untuk melihat gambaran rumah secara keseluruhan dan memperlihatkan dimana para karakter berada untuk mencari harta karun $300.000. Bukan hanya sekedar memberikan visual yang apik dan unik, namun secara bersamaan menghadirkan ketegangan juga menaikan tensi kegelisahan kepada para penonton setiap menitnya. Sensasi klaustrofobik yang luar biasa dihadirkan setiap scene nya, terlebih di salah satu momen terbaik dalam film ini, dimana melibatkan adegan petak umpet dalam keadaan benar-benar gelap dan juga dishoot dengan mode night-vision—terlihat dari pupil para karakter yang membesar karena mencari cahaya. Kita sesaat diajak untuk merasakan apa yang si tuan rumah rasakan. Namun dengan terbiasanya dengan kegelapan dan juga detail setiap ruangan, sang tuan rumah menjadi lebih diuntungkan. Ya, adegan tersebut menjadi adegan yang paling menyakitkan karena benar-benar menguras tenaga juga secara literal membuat para penontonnya untuk menahan nafas.


Di departemen casting, Don’t Breathe tidak bisa diangap ‘biasa saja’. Semua bermain dengan performa yang luar biasa. Jane Levy  yang sebelumnya juga bermain di Evil Dead bermain cukup apik. Tidak hanya memperlihatkan betapa frustrasinya, namun juga memperlihatkan betapa kuat tekadnya untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuannya di awal. Dylan Minnette dan juga Daniel Zovatto bermain pas tanpa kurang. Para perampok diperlihatkan ‘amatir’ namun tidak serta merta datang tanpa persiapan. Mereka dijadikan sebagai perampok yang cukup meyakinkan dan memahami berbagai detai dan resikonya.  Sang lawan, Stephen Lang yang sebelumnya dikenal bermain di film Avatar garapan sutradara Alfonso Cuaron, tampil dengan sangat baik. Lang sukses menjadi seorang tuna netra dengan gestur-gesturnya yang meyakinkan namun juga mematikan. Dirinya menjadi the blind man yang menjadi mimpi buruk bagi setiap penyusup yang nekat.


Premis tanpa eksekusi yang baik jelas mengecewakan, namun Don’t breathe memiliki keduanya. Premis yang terbilang sederhana namun dieksekusi yang betul-betul solid dan matang membuat film ini menjadi film yang ‘tidak biasa’. Uniknya lagi, Alvares memainkan emosi dengan memberikan latar belakang kuat pada setiap karakternya, dimana hal tersebut mendukung dan memberikan motivasi kuat pada setiap aksi. Penonton pun dibuat bingung untuk memilih berada di sisi yang mana. Sisi para perampok amatir apa di sisi sang pria tuna netra?

Overall, Don’t Breathe menjadi kejutan luar biasa bagi pecinta film horror-thriller dan dianggap menjadi salah satu film terbaik di tahun 2016 ini, setelah di awal tahun kita sempat disuguhi film thriller lainya dari Dan Trachtenberg, 10 Cloverfield Lane dan juga horror disturbing dari Robert Eggers, The VVitch.
[MOVIE REVIEW] Don't Breathe (2016): You Can't Even Breath
00.18.00

[MOVIE REVIEW] Don't Breathe (2016): You Can't Even Breath

Jumat, 26 Agustus 2016


Setelah nonton episode terakhir dari season kedua UnREAL, dan juga episode finale season perdana dari Mr. Robot, saya yakin kalau dunia pertelevisian Amerika memang sedang berada di puncak, dari segi kualitas. Beberapa tahun ini, para pecinta film series dimanjakan dengan suguhan-suguhan apik yang memang niat dibuat dan tidak kalah dengan film panjang yang mana makin kesini makin general, tidak ada yang original dan juga lebih mengagungkan efek visual. Mungkin agak telat juga untuk mereview Mr. Robot karena sekarang sudah memasuki Season 2 bahkan hanya tersisa beberapa episode lagi, tapi untuk kalian yang baru mulai catch up atau penasaran, tulisan ini bisa menjadi salah satu referensi.

Dari judulnya, mungkin banyak yang mengira bahwa Mr.Robot merupakan series yang memuat cerita tentang Artificial Intelegent, bahkan di awal saya pun mengira seperti itu, namun ternyata perkiraan saya salah, sangat salah. Mr. Robot merupakan series yang menceritakan tentang seorang Elliot yang ketika siang menjadi teknisi IT di perusahaan cyber security, AllSafe, dan ketika malam menjadi seorang hacker Vigilante.


Elliot bermasalah dengan yang namanya interaksi sosial, namun dirinya punya cara tersendiri untuk mengenal orang-orang sekitarnya, termasuk sahabatnya Angela dan juga terapisnya, Krista. Tentu saja apalagi kalo bukan hacking data pribadi mereka termasuk email, rekening, dll.  Mungkin banyak yang setuju apabila cara Elliot merupakan cara yang tidak wajar dan menakutkan, namun ya itulah Elliot.

Sampai pada suatu waktu Elliot bertemu dengan pemimpin grup hacker FSociety bernama Mr. Robot yang berencana merekrutnya untuk melakukan aksi besar dan bersejarah: menjatuhkan korporasi-korporasi jahat dan korup dimulai dari Evil Corp, yang mana juga merupakan salah satu costumer dari perusahaan tempatnya bekerja.

Mr. Robot merupakan series yang menekankan gaya penceritaan yang kuat dan juga gaya visual yang apik. Mungkin sedikit mengingatkan pada gaya-gaya kelam dan gritty nya beberapa karya David Fincher. Namun sepertinya sang creator, Sam Esmail mengembangkan gaya Mr. Robot menjadi lebih dinamis dan bisa memberikan kesan mendalam terhadap penontonnya.



Dari segi cast, Elliot yang menjadi katalis utama, come out with a BANG di serial ini. Entah kenapa rasanya tak ada yang bisa menjadi Elliot selain Rami Malek. Menampilkan karakter yang penyendiri tapi kesepian juga seorang pecandu bisa dihadirkan dengan sangat apik oleh Rami Malek. Selain Elliot, Martin Wallstrom sebagai Tyrell Wellick juga merupakan tokoh yang cukup menarik di Mr. Robot. Wajahnya yang tipe-tipe manipulator juga bermain dengan sangat apik. Jangan lupakan karakter Mr. Robot yang diperankan oleh Christian Slater yang penuh dengan misteri yang kadang kita bertanya-tanya siapa sih dia?! Tyrell dan Mr. Robot merupakan tokoh-tokoh yang selalu punya andil terhadap plotnya.

Bagi saya yang tergila-gila dengan sinematografi unik dan nyeleneh, serial ini jadi salah satu favorit saya. Mr. Robot nampaknya memang tidak main-main dalam penggarapannya. Secara sinematografi baru Mr. Robot series yang menurut saya menabrak pakem-pakem mainstream dalam komposisi pengambilan gambar namun tetap tidak mengganggu, justru semakin membuat serial ini menarik. Seperti contoh: dalam conventional filmmaking, konversasi antar pemain biasanya memberikan kesan bahwa mereka saling berhadapan dengan adanya cut to cut antara pelaku konversasi dan memperlihatakan “leading room” dimana mereka memang sedang berbincang, namun tidak dengan Mr. Robot. Para karakter di Mr. Robot selalu ditampilkan dipaling bawah frame sehingga menyisakan banyak ruang kosong yang memperlihatkan setiap tokoh seolah-olah terisolasi, juga ketika sedang berbincang, selalu diperlihatkan seolah-olah para karakter berbicara sendiri.


Di masa kejayaan tivi kabel dan tivi internet, setidaknya referensi dan alternatif tontonan bagi saya yang memang pecinta serial, bertambah. Mr. Robot merupakan salah satu serial yang memang apik dan setiap episodenya selalu berkembang dengan baik. Season debutnya yang hype hingga menyabet Best Drama Series Critic’s Choice Awards 2016 dan Best Drama/Series Golden Globe Awards 2016  memperlihatkan bahwa serial ini memang layak ditonton bagi kalian pecinta serial televisi atau bagi kalian yang bosan dengan film-film panjang sekarang yang begitu-begitu aja ceritanya. Mr. Robot sudah memasuki season 2 dan hanya 3 atau 4 episode lagi tersisa. Tidak ada salahnya bagi kalian yang memang penasaran untuk segera catch up.


So, Welcome to FSociety, bithces!!!!
[SERIES REVIEW] Mr. Robot (2015): "Our Democracy Has Been Hacked"
15.31.00

[SERIES REVIEW] Mr. Robot (2015): "Our Democracy Has Been Hacked"

Kamis, 21 Juli 2016


Film horror merupakan salah satu genre film yang cukup banyak peminatnya. Kebanyakan penikmat film horror senang dengan adegan-adegan menegangkan yang bisa membuat deg-degan hingga berteriak-teriak. Namun banyaknya film horror dengan kengerian artificial terkadang tidak menempatkan film horror dalam artian sesungguhnya. Memang tidak ada salahnya menggoda hingga menakut-nakuti penonton dengan adegan-adegan yang membuat para penonton terkaget dan berteriak, namun ada dua hal yang juga wajib dilakukan oleh film horror: Haunting and disturbing. Yap, menghantui dan mengganggu adalah dua hal wajib yang harusnya dilakukan film horror. Bukan hanya ketika sedang menonton, namun juga setelah berpisah dengan film tersebut.

Sejak franchise Final Destination, menurut saya tidak ada lagi film horror yang dapat mengganggu sedemikian rupa di kehidupan nyata. Teringat bagaimana ketika paranoidnya saya melihat truk besar, ataupun hanya sekedar melihat tiang listrik. Ya, film horror harus mengganggu seperti itu. Namun, sepertinya film-film horror yang haunting and disturbing mulai terasa geliatnya. Sejak menonton It Follows (2015), terlihat bahwa film horror mancanegara mulai beralih ke arah yang baru. Tidak hanya mengandalkan jump scare, namun juga premis yang original dan unik, juga sinematografi yang sangat artistik, tidak lupa juga, unsur hunting and disturbingnya.


Begitupula yang saya rasakan dengan film The VVitch: A New England Folktale (dibaca The Witch) yang menjadi angin baru bagi genre horror luar. Berlatar di New England Colonial abad 16, karena dianggap menganut keyakinan yang berbeda dari yang ada, William (Ralph Ineson) diusir dari perkampungannya bersama istrinya Katherine (Katie Dickie), anaknya Thomasin (Anna Taylor-Joy), Caleb (Harvey Scrimshaw), dan si kembar Mercy (Ellie Graingner) dan Jonas (Lucas Dawson). Tanpa meninggalkan keyakinannya, keluarga ini pun mendirikan pondok dan ladang di lahan yang berada tepat bersebelahan dengan hutan. Anggota keluarga pun bertambah dengan hadirnya kelahiran putra kelima bernama Samuel. Suatu ketika Thomasin sang anak sulung bermain peek-a-boo bersama Samuel di tepi hutan, namun naas, ketika sang kakak membuka mata, sang adik telah menghilang. Menghilangnya Samuel menjadi awal keanehan yang semakin hari semakin mengganggu, mulai dari hasil pertanian mereka yang membusuk dan mengering, hingga mati nya ternak-ternak. Gangguan tersebut tidak lain dan tidak bukan ternyata berasal dari seorang penyihir yang tinggal di hutan.

Hanya satu kata yang menurut saya pantas untuk film ini ketika selesai menontonnya. Briliant! 93 menit durasi film berhasil dimanfaatkan oleh Robert Eggers dengan sangat baik. Untuk film debut, Eggers sungguh luar biasa. Tempo yang dibangun sangat konsisten tanpa ada ketimpangan jarak yang besar, sehingga penonton dapat menikmatinya dengan baik. Ketegangan yang dibangun selama film berlangsung pun tidak terlalu berlebihan, namun unsur disturbing tetap ditingkatkan dari menit ke menit sehingga membuat penonton selalu diliputi rasa ambigu dan penasaran terhadap apa yang sebenarnya terjadi.

Formula yang dimiliki The VVitch tidak datang dari adegan-adegan yang membuat jump scare, namun sajian The VVitch terasa sangat renyah bagi pencinta film horror. Penonton tidak selalu diajak berwaspada ria akan kemunculan karakter di adegan selanjutnya, namun film ini memberikan penontonnya sajian dengan konsep apa yang tak terlihat lebih mengerikan dari yang kamu lihat. Hal ini yang mengganggu penonton karena dengan tempo yang lambat, penonton dibuat tidak nyaman dengan sinematografi depression athmosphere-nya Jarin Blaschke dibalut dengan scoring yang juga sama mengganggunya gubahan Mark Korven. Selain itu shot-shot long take medium close up, low angle dan simetris, juga latar ladang yang terletak di tepi hutan membuat kesan mengerikan dan kesan klaustrofobik sukses dipertahankan dari awal hingga akhir film dengan sangat kental.


Sebenarnya yang menarik dari The VVitch adalah bagaimana Eggers mengangkat salah satu gagasan yang paling mendasar bagi setiap manusia, yaitu kepercayaan. Bagaimana suatu keluarga yang selalu taat terhadap Tuhan akhirnya paranoid, putus asa, menyesal, saling menuduh, hingga kekacauan batin yang akhirnya memecah belah keluarga ini.

Tentu cerita yang briliant tidak mungkin berhasil tanpa performa casts yang baik. Karakter-karakter tampil bermain dengan sangat apik. Kemampuan para casts dalam mengajak penonton ke dalam cerita sungguh sangat memikat. Sang Ayah yang diperankan oleh Ralph Ineson sungguh meyakinkan kita semua tentang tetap berpegang teguh kepada Tuhan, apapun yang terjadi. Namun karakternya juga memperlihatkan betapa bingungnya terhadap apa yang terjadi kepada keluarganya. Performa Ralph Ineson sangat luar biasa menurut saya. Semua ekspresinya terlihat sangat pas. Anya Taylor-Joy pemeran Thomasin sang anak sulung juga bermain sangat meyakinkan. Pembawaanya yang tenang namun penuh tanya ini membuat penonton menebak-nebak siapa dan bagaimana sebenarnya Thomasin ini. Karakter yang lain pun saling melengkapi dan terlihat tidak ada yang timpang. Karakter si kembar Mercy dan Jonas yang terlihat cukup mengganggu dengan kelakuannya juga keakrabannya dengan kambing hitamnya yang cukup creepy. Bisa dibilang semua casts bermain dengan sangat apik, hampir tanpa cela.


Overall The VVitch merupakan film horror klasik artistik dengan cerita yang briliant dan provoking juga didukung performa casts yang apik. Tidak hanya menaikan ketegangan, namun film ini akan meninggalkan kesan disturbing kepada penontonnya dengan cara yang indah dan memikat. Bagi yang menggemari horror jump scare, mungkin The VVitch bukan film yang tepat, namun tidak ada salahnya menonton film horror dengan rasa seni yang tinggi sekali-sekali. 


[MOVIE REVIEW] The VVitch (2016): "Wouldst thou like to live deliciously?"
21.36.00

[MOVIE REVIEW] The VVitch (2016): "Wouldst thou like to live deliciously?"

Selasa, 07 Juni 2016



Awal Bulan Juni 2016 para penggemar film disapa oleh hadirnya empat kura-kura mutan dalam Teenage Mutant Ninja Turtles: Out Of Shadows. Film ini merupakan sekuel dari film pertamanya Teenage Mutant Ninja Turtles yang rilis dua tahun lalu. Meskipun masih diproduseri oleh Michael Bay, Film TMNT 2 kali ini digarap oleh sutradara berkebangsaan Amerika yang lebih sering menyutradarai music video, Dave Green.

Masih mengisahkan keempat kura-kura mutan Leonardo, Donatello, Michelangelo, dan Raphael yang memburu musuh bebuyutan mereka, Shredder (Brian Tee) yang baru saja kabur ketika akan dipindahkan ke penjara lain. Tentu saja usaha mereka tidak semudah yang diharapkan karena kali ini Shredder dibantu oleh seorang ilmuan Dr Baxter Stockman (Tyler Perry) dan dua anak buah yang juga mutan, Bebop (Gary Anthony Williams) dan Rocksteady (Stephen Farrelly). Kali ini keempat kura-kura, selain dibantu oleh April, juga dibantu oleh seorang mantan anggota NYPD, Casey Jones (Stephen Amell).

Setelah kegagalan film pertamanya yang lebih banyak mengisahkan si pemilik kura-kura, April O’Neil (Megan Fox), kali ini porsi empat kaka beradik kura-kura ini lebih banyak termasuk penguatan karakter pada masing-masing tokoh (Leonardo yang lebih wise karena merupakan leader, Donatello si pintar dan IT geek, Raphael si kuat terlihat dari fisiknya yang lebih berotot, dan Michelangelo si lucu) yang membuat film ini ya film kura-kura ninja seperti kartunnya yang dulu biasa kita tonton.


Film kedua ini banyak memusatkan pada karakter empat kura-kura ninja yang mana di film ini ditampilkan lebih bagus secara fisik. Kualitas CGI yang digunakan semakin luar biasa bagus, untuk keempat tokoh kura-kura ninja yang memang full CGI juga untuk dua mutan lainnya Bebop dan Rocksteady. Plus 3D yang kualitasnya memang cukup baik namun sepertinya film ini tidak begitu membutuhkannya karena kebanyakan adegan diambil pada malam hari membuat efek 3D tidak bisa dinikmati dengan maksimal, malah membuat kurang nyaman.

Kelemahan di film ini terlihat pada cerita yang terasa tidak sefresh film pertama. Kehadiran Amell sebagai Casey Jones juga terlihat hanya seperti cameo yang tidak terlalu dibutuhkan. Plot yang mudah ditebak dan juga tidak terlalu banyak adegan mengejutkan seperti di film pertama. Jokes yang juga kebanyakan garing adalah yang paling terasa karena di film pertama saya rasanya bisa tertawa lepas tapi di film ini not so much dan ada perasaan awkward begitu keluar dari bioskop.


But ya, overall, film ini cukup menghibur dan cocok dinikmati bersama adik atau ponakan kalian.

[MOVIE REVIEW] Teenage Mutant Ninja Turtles: Out Of The Shadows (2016): Not As Good As It Should Be
14.14.00

[MOVIE REVIEW] Teenage Mutant Ninja Turtles: Out Of The Shadows (2016): Not As Good As It Should Be