Selasa, 17 Mei 2016

[MOVIE REVIEW] The Purge (2013): One Night A Year, All Crime Is Legal
20.36.00

[MOVIE REVIEW] The Purge (2013): One Night A Year, All Crime Is Legal



Diluar review jelek tentang film ini, saya sih cukup menikmatinya karena ide film ini brilian. The Purge merupakan film action-horror yang ditulis dan disutradarai oleh James DeMonaco. Film ini dianggap sukses dipasaran untuk sebuah film yang low budget. Mendulang hampir 30 kali lipat dari biaya pembuatannya dan menjadi hits di awal tahun 2013 karena premisnya yang dianggap nyeleneh.

Siapa sangka di tahun 2022 Amerika Serikat akan menjadi negara yang lahir kembali dan mempunya New Founding Fathers. Untuk menjaga angka pengangguran juga kriminalitas tetap rendah, pemerintah memberlakukan 12 jam annualThe Purge” atau pembersihan, atau dalam hal ini penyucian atau penebusan dosa. Dalam 12 jam (mulai jam 7 malam hingga 7 pagi) tersebut semua tindakan kriminalitas  (pembunuhan, perampokan, pemerkosaan) dilegalkan baik bersenjata ataupun tidak walaupun penggunaan senjata tingkat 4 (bom, roket, misil) dilarang. Saat pelaksanaan The Purge semua social services seperti polisi dan ambulan, dan pemadam kebakaran dalam status tidak aktif dan para korban The Purge akan ‘diurus’ keesokan harinya. Saat pelaksaannya siapapun dilarang menyerang pejabat pemerintah dalam level 10. Mereka harus tetap tanpa luka apapun alasannya. The Purge hanya berlaku bagi setiap warga sipil Amerika Serikat untuk melampiaskan hasrat ‘kebinatangannya’ setelah 1 tahun tidak boleh melakukan tindakan kriminalitas. Gila kan!


James Sandin (Ethan Hawke) merupakan seorang developer untuk security home bagi orang-orang kaya di kawasan perumahan elit. Sistem tersebut diklaim mampu bertahan dan sangat aman terutama pada saat annual “The Purge”. James Sandin dan istrinya, Mary Sandin (Lena Headey) bersama kedua anak mereka Zoey (Adelaide Kane) dan Charlie (Max Burkholder) dianggap keluarga yang diuntungkan dari diadakannya annual The Purge ini. James selalu menganggap security home yang terpasang di setiap sudut rumahnya itu sangat aman sehingga tidak akan ada siapapun yang menerobos masuk, hingga pada suatu saat sang putra, Charlie melakukan sebuah tindakan yang membahayakan seluruh anggota keluarga.

Meskipun premis yang dimiliki film ini sangat unik dan tergolong original, namun sepertinya sang sutradara kebingungan untuk mengeksekusi ide-ide brilian tersebut kesebuah cerita horror yang dialami sebuah keluarga. Film ini tidak digarap secara maksimal.


Untuk sebuah kritik, film ini sangat sarat akan kritik terhadap pemerintahan New America dimana di film ini terlihat bahwa The Purge merupakan ajang pelampiasan emosi atau sebuah katarsis dari rakyat Amerika, dan hal ini dianggap sebagai bentuk patriotisme dimana Amerika bisa menjaga angka pengangguran dan kriminalitas tetap rendah, dengan ‘saling membunuh’. Selain itu, ketimpangan antara si kaya dan si miskin dapat terlihat di film ini. Dimana si kaya dapat membentengi rumahnya dengan home security yang diklaim tidak dapat dibobol, dan si miskin yang tidak mampu membentengi rumahnya pasrah saja dengan nasibnya dan berharap dirinya tidak menjadi sasaran di The Purge. Hal tersebut tentu saja merupakan jalan termudah untuk memberantas kemiskinan, bukan? Dalam hai ini James DeMonaco tidak mengeksplorasi penyucian diri ini dengan maksimal, sehingga film ini terkesan hanya film pembunuhan biasa.

Ketegangan di film ini terasa antiklimaks, tidak begitu intens. Mungkin karena setting film ini hanya di dalam rumah, unsur kebrutalan di film ini tidak begitu terasa. Karakter para pemain pun terasa hambar. Tidak ada yang benar-benar membuat saya jerit-jerit ataupun loncat-loncat ketika menontonnya karena tegang. Hanya kaget, itu pun sesaat saja. Yang membuat film ini creepy justru topeng-topeng dan kostum-kostum yang digunakan oleh orang-orang yang melakukan ritual penyucian. Secara keseluruhan film ini sayangnya tidak begitu istimewa, namun cukup menghibur untuk tontonan di kala senggang.


0 komentar:

Poskan Komentar